News Update :

Jumat, 29 Juli 2011

Awal Mula Pecahnya Persaudaraan Benteng Viola dan The Jak Mania


Komisi Disiplin (Komdis) PSSI tidak berniat melindungi penyerang Persija Pusat Budi Sudarsono, dari kemungkinan terkena sanksi atas keterlibatannya dalam peristiwa tawuran yang mewarnai pertandingan antara Persija Pusat dan Persita Tangerang, partai perdana kompetisi Divisi Utama Liga Bank Mandiri (LBM) X- Tahun 2004, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (4/1).

''Tak benar kalau ada sinyalemen Komdis PSSI sengaja melindungi Budi Sudarsono dari kemungkinan terkena sanksi, hanya karena dia salah satu pemain nasional. Saya dan anggota Komdis PSSI lainnya sama sekali tidak berpikir ke sana,'' kata Ketua Komdis PSSI Togar Manahan Nero, di Senayan, kemarin.

Togar menambahkan, dalam menjatuhkan sanksi atau hukuman kepada para pemain yang terlibat dalam peristiwa tawuran seusai pertandingan Persija Pusat melawan Persita Tangerang tersebut, pihaknya tidak memikirkan kepentingan apa pun, termasuk pemain nasional atau bukan.

''Keputusan Komdis PSSI ini murni dan atas dasar kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan masing-masing pemain. Dan dalam membuat keputusan itu, kita harus menghindari interes tertentu,'' jelas Togar.

Dari peristiwa tawuran yang terjadi di akhir pertandingan Persija Pusat dengan Persita Tangerang itu, Komdis PSSI yang diketuai Togar Manahan Nero telah menjatuhkan sanksi atau hukuman kepada empat pemain, masing-masing dua dari Persija Pusat (Ismed Sofyan, Samsidar) dan dua dari Persita Tangerang (Achmad Kurniawan, Jorge Toledo).

Diakui Togar, hukuman terberat diterima pemain Persita asal Cile Jorge Toledo, yang dikenai sanksi larangan bermain empat tahun dan denda Rp 20 juta. Atas sanksi ini, Toledo mengajukan banding, yang sidang komisi bandingnya kemungkinan baru akan dilakukan Senin atau Selasa depan.

Lain halnya dengan tiga pemain lainnya, yakni Achmad Kurniawan (kiper Persita), Samsidar (kiper kedua Persija), dan Ismed Sofyan (Persija), masing-masing dijatuhi hukuman larangan main empat bulan serta denda Rp 10 juta. Atas sanksi ini, pihak Persija Pusat dan Persita juga mengajukan banding.

Bertalian dengan beratnya sanksi yang diterima Toledo, Togar menyatakan, hal itu tidak sekadar didasari oleh pertimbangan bahwa Toledo adalah pemain asing yang keberadaannya seharusnya menjadi teladan. Namun semata-mata karena kualitas pelanggaran yang dilakukan Toledo.

''Pertimbangannya, hukuman berat untuk Toledo bukan sekadar karena dia pemain asing, melainkan memang karena kualitas kesalahannya. Lihat saja bagaimana seriusnya dia berlari sejauh sekitar 30 meter untuk memukul pemain lawan,'' tegas Togar.

Rekaman

Soal Budi Sudarsono, lanjut Togar, dalam beberapa rekaman visual hasil liputan sejumlah kamerawan televisi swasta terlihat ikut memukul permain Persita, Komdis belum menjatuhkan hukuman. Sebab, kata Togar, pihaknya justru belum melihat rekaman kejadian yang menunjukkan Budi benar-benar ikut memukul. Dalam pengakuannya kepada Komdis, Budi juga mengaku ikut memukul. Ironisnya, kata Togar, pengakuan saja belum cukup.

''Kami masih harus melihat rekaman yang bisa membuktikan bahwa Budi memang terlibat ikut memukul, jadi kemungkinan ada sanksi terhadap Budi masih kita tunda,'' ujarnya.

Luputnya Budi Sudarsono dari sanksi yang diterapkan Komdis menumbuhkan dugaan Komdis sengaja melindungi pemain depan Persija Pusat itu, mengingat Budi adalah salah satu nominasi pemain untuk Timnas Pra-Piala Dunia (PPD) dan Piala Asia.

Sebagaimana diketahui, Timnas Indonesia akan memulai perjuangannya di pertandingan penyisihan Grup 8 Zona Asia PPD 2006 pada 18 Februari melawan Arab Saudi.

Togar juga mengemukakan tentang kemungkinan masih banyak pemain dari Persija Pusat dan Persita Tangerang yang akan terkena sanksi atau hukuman dari Komdis. Itu karena dia melihat kemungkinan memperoleh temuan-temuan baru dari peristiwa tawuran tersebut. ''Saya masih melihat beberapa rekaman yang dipinjam dari teman-teman kamerawan, dan itu harus benar-benar kita lihat secara cermat,'' jelas Togar.

Sementara itu Diluar stadion sudah terjadi gesekan antara Viola Dan The jak,Viola yang jumlahnya lebih kecil dibandingkan The jak yang hampir menguasai keseluruhan stadion gelora Bung Karno terpaksa tertahan di dalam stadion,karena di takutkan terjadi tawuran lebih luas lagi Viola di giring oleh pihak Keamanan kedalam lapangan gelora Bung Karno.

Suasana di Luar stadion Gelora Bung Karno Sudah tidak terkendali lagi,Perang batupun terjadi antara Viola dan The Jak,Sampai sampai Pentolan The Jak "Bang Gugun Gondrong" turun langsung ketempat terjadinya pertempuran perang batu antara Viola Dan The Jak,seuasana di luar stadion sempat terkendali namun gesekanpun kembali terjadi,The Jak mendapatkan Perlawanan sengit dari Viola yang pada waktu itu berjumlah lebih minoritas dibanding The Jak yang jumlahnya mungkin puluhan ribu.

Akhirnya sekitar jam 20.30 WIB Suasana sudah terkendali,dikarenakan The Jak sudah berhasil di giring Pihak keamanan untuk pulang ke rumahnya masing masing,Viola yang pada waktu itu sedang duduk duduk santai sekalian merasakan rumput senayan yang mungkin sangat langka sekali untuk kita semua merasakannya,Kedatangan sesosok Gugun Gondrong dan seluruh pihak korwil korwil dari the Jak yang sengaja datang khusus untuk meminta maaf kepada pihak Viola sekaligus memberi jaminan keamanan perjalanan pulang kepada Viola.

Sekitar jam 21.15 WIB akhirnya Viola sudah di perbolehkan pulang oleh pihak keamanan dengan melakukan konvoi secara bersamaan,pada saat itu hujan turun lebat sekali,kami Viola khususnya yang tidak mendapatkan tempat duduk di dalam mobil bus yang di tumpangi terpaksa hujan hujanan di atas bus atau di pintu pintu Mobil , hal tersebut terjadi dikarenakan Viola yang independent atau datang sendiri(ngeteng) dari tangerang terpaksa harus ikut rombongan Viola.

Diperjalanan Viola dikawal oleh sekitar 200 orang dari pihak The Jak dengan mengendari motor dan mobil kebangsaanya masing masing, juga termasuk bang Gugun Gondorong yang dibonceng oleh Rombongan The Jak yang mengendarai motor dan dari pihak keamanan, Akhirnya perpisahanpun terjadi di depan pintu masuk Tol senayan, dan mungkin itu perpisahan terakhir persahabatan antara Viola dan The Jak.

Gue yang kebetulan ikut dalam rombongan Viola pada saat itu dan kebetulan pula ngegantung di pintu angkot sambil hujan hujanan, ikut merasakan suasana perpisahan tersebut suasana persahabatan dan mungkin yang terakhir antara Viola dan The Jak, Gugun Gondrong dan kawan kawan The Jaknya menyalami kami satu persatu di depan pintu masuk tol Gelora Bung Karno, Gue yang pada waktu itu mungkin merasa agak kecewa dengan ulah The Jak atau mungkin simpatisan The Jak sempet salut ame 200 orang atau mungkin lebih dari The Jak dan Bang Gugun Gondrongnya.

Dulu jika Viola bertandang ke lebak bulus selalu di sambut dengan tepuk tangan dan nyanyian The Jaknya, Begitu Pula Jika The Jak bertandang Ke Benteng Selalu Di sambut oleh Viola dengan Tepuk tangan dan nyanyian Viola pula...

Dulu Viola dan The Jak bernyanyi bersama dalam satu tribun tanpa adanya sekat pemisah, sekarang pertanyaannya..

Apakah persahabatan tersebut dapat terjalin kembali??
Apakah Viola dan The Jak bersama kembali??

Semua kembali kepada diri kita masing masing,betapa indahnya persahabatan itu dan betapa indahnya ikatan erat kebersamaan Viola dan The Jak pada saat itu.
Semoga semua itu terjalin kembali...
Semoga kita semua bisa bersama kembali...
Semoga Viola dan The Jak bersatu kembali...

Marilah kawan kita jalin kebersamaan itu kembali!!!.[Devit Fals Viola Perdamaian]

0 komentar:

Poskan Komentar

« »

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More